Mengapa Orang yang Merumitkan Kita Justru Membuat Kita Bertumbuh?
Pernah nggak kamu merasa ketika berurusan dengan seseorang, ada dari mereka yang membuat kamu seperti “Kok dipersulit sih? padahal tinggal ini dan ini aja loh selesai. Kenapa jadi panjang banget urusannya?”.
Haha yap, ini juga pernah saya rasakan dulu, saat menghadapi semester akhir perkuliahan. Karena saya juga termasuk alumni yang lulus di masa pandemi, beginilah cerita saya menyelesaikan perkuliahan.
Sebenarnya memang banyak tipe dosen ya, termasuk ada yang mudah dihubungi dan ada juga dosen yang sulit dihubungi. Sebenarnya di awal mengajukan ingin penelitian tugas akhir saya di ampu oleh beliau juga sudah terlihat. Ketika banyak teman-teman sekelas yang sudah mendatangi dosen yang dituju dan direspon.
Saya salah satu yang pesannya direspon cukup berjeda saat itu. Tapi ya saya nggak mau ambil pusing masalah itu. Besoknya bertemu dikelas, tinggal disampaikan lagi. Maka jadilah saya anak bimbing beliau ini selama mengerjakan tugas akhir.
Pernah ada salah satu teman yang nanya, “kenapa pilih beliau? memang suka sama topik penelitiannya?”
Tapi jujur sejujur jujurnya saya tidak sepaham itu, saat itu memilih karena ya ingin beliau saja saat itu, saya selalu suka dengan pembawaan beliau ketika mengajar dikelas. Tetap fokus menjelaskan dengan senyum ramah tetapi detail dan tidak terlalu memusingkan mahasiswa yang ketiduran atau sambil ngobrol dengan teman sebelahnya.
Entah bagaimana kata hati yang diikuti ini, pokoknya beliau sajalah tertariknya saat itu.
Selama penelitian juga nggak ada hal yang harus dikhawatirkan hingga akhirnya pandemi covid masuk ke Indonesia. Selama penyebaran, akses untuk masuk ke dalam kampus dibatasi.
Salah saya juga sih, saat itu karena penelitian di laboratorium dan pengamatannya sudah selesai, saya pikir bisa bebas saja setelahnya, karena tinggal menyusun hasilnya dalam tulisan dan mencari literatur pendukungnya.
Alhasil saya memutuskan untuk kembali ke Riau, dengan izin dosen pembimbing sudah dikantongi lebih dulu. Tidak sendiri saya saat itu dengan beberapa teman satu jurusan saya. Hari ke hari dilewati, tanpa was was, sesantai itu, ya ampun.
Sampai akhirnya, salah satu teman melaksanakan seminar hasil via whatsapp grup. Sebelumnya saya sudah coba menghubungi dosen pembimbing skripsi saya ini untuk diskusi terkait hasil pengamatan dan sebagainya, namun pesan saya tidak mendapatkan respon hingga akhirnya sudah ada teman yang seminar. Semakin panik sebenarnya, belum lagi tuntutan orangtua yang saat itu agar bisa lulus tepat waktu tanpa tambahan semester lagi.
Beberapa hari setelahnya memang beliau memberi respon kurang lebih begini “mohon maaf ya, saya sedang mengutamakan mahasiswa lain yang akan seminar.”
Sebulan, dua bulan, tiga bulan semakin nggak boleh berdiam diri ini tapi benar-benar belum bisa memutuskan selama kampus ditutup. Di hubungi lagi masih tetap sama teramat slow respon.
Akhirnya setelah empat bulan di rumah saya putuskan untuk kembali ke perantauan, Alhamdulillah saat itu kampus sudah kembali dibuka, walaupun tidak bebas terbuka untuk umum, sehingga manusia-manusia tingkat akhir ini bisa masuk dan berkunjung. Mengingat saat itu mahasiswa yang aktif proses belajar mengajarnya dengan via online.
Walaupun tidak mudah, keberadaan saya disekitar kampus lebih tenang untuk proses menyelesaikan tugas akhir daripada di rumah.
Ternyata, Mereka Bukan Merumitkan Tetapi Membentuk
Saya menambah satu semester untuk menyelesaikan tugas akhir ini, padahal mulai mengerjakan lebih awal dari teman-teman lainnya, berharap bisa lulus tepat waktu, tapi ada hal yang lebih baik untuk saya saat itu.
Mereka Melatih Kesabaran yang Nyata
Pernah dengar salah satu kajiannya ustad Oemar Mita beliau bilang “Bersabarlah di ruang tunggu”.
Maksudnya bukan hanya sekedar menahan dan menerima, tapi juga berdamai ketika diuji, tetap bergerak, tetap aktif menanyakan walaupun tidak menerima respon. Lalu setelahnya bagaimana sikapmu, akan berhenti atau terus mengusahakan?
Mereka Menguatkan Mental Kita
Karena ini, membuat diri untuk tidak terlalu reaktif menghadapi yang tidak sesuai rencana karena hanya melelahkan batin bukan? Dari sinilah kita jadi belajar mengelola rasa, mengolah kata yang terjebak dalam pikiran lalu berhenti membandingkan.
Mereka Mengajarkan Cara Berkomunikasi yang Lebih Dewasa
Menghadapi hal seperti ini jadi perlu strategi agar tidak membuang waktu lebih banyak lagi dengan cara:
- Menyampaikan maksud dengan jelas
- Tidak mudah terpancing emosi
- Berhati-hati dalam memilih kata-kata
Mengajarkan Batasan
Mengarahkan Kita Kembali Kepada Allah
Ketika kamu menyadari yang mengerakkan hati setiap manusia itu Allah, kamu jadi lebih sering berdoa nggak sih? jadi lebih banyak mengadu bukan ketika yang kamu hadapi terasa sulit?
Dalam Islam: Ujian Tidak Selalu Berupa Kesulitan Besar
Rasulullah SAW bersabda mengenai pentingnya bersosialisasi dan sabar terhadap kekurangan orang lain:
"Orang Mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar dalam menghadapi gangguan mereka itu lebih baik daripada orang mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar dalam menghadapi gangguan mereka." (HR. Ibnu Majah, sanad hasan).
Silih berganti ketika bertemu setiap orang dalam perjalanan hidup mereka hadir bukan tanpa tujuan, ada yang:
- Menguji kesabaran
- Menguji keikhlasan
- Menguji cara kita menyikapi sesuatu hal
Semuanya terjadi bukan tanpa alasan, tentu dengan izin Allah.
Saya tidak lagi menilai mereka yang hadir dengan cara seperti itu sebagai penghalang dalam saya mencapai satu tujuan, tapi pelajaran yang membentuk saya untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Terima kasih ya pak, sudah menjadi salah satu sosok yang menjadi warna dalam memberikan pelajaran untuk episode hidup saya saat itu.
Oh iya, 2 tahun setelah kelulusan beliau meninggal dunia, semoga Allah ampuni dosa-dosa beliau, terhindar dari siksa kubur dan kuburnya menjadi taman diantara taman-taman surga. Aamiin.
Al fatihah.

Komentar